Selasa, 03 Mei 2011

Cerpen: Toples Biru dan Wajah ayu “Lina”


 Toples Biru dan Wajah ayu “Lina”

oleh Seffy Lia Agustin

 
            Udara terasa dingin pagi ini. Di ruangan kamar kost berukuran 4 x 4 meter ini meski waktu telah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Masih kutarik selimut tipis yang melapisi tubuhku malam tadi dan tak kuhiraukan lagi kulit kacang yang berserakan di pojok lantai bekas semalam aku begadang bersama tiga rekan karibku. Mereka adalah Andi, Angga, dan Heri. Biasanya kami memang sering ngumpul di kos-kosanku saat malam minggu, karena kami berempat tak mempunyai gebetan dan saat ini yang sedang kasmaran adalah aku. Seorang wanita cantik telah menarik perhatianku. Dia adalah Lina, seorang mahasiswi semester enam jurusan Sastra. Lebih tepatnya, dia adalah adik kelasku. Sedangkan aku, aku sedang menempuh sekripsi dan mungkin Bulan juli nanti aku sudah wisuda. Lumayan, masih ada empat bulan lagi untuk mempersiapkan semuanya.
Kerasnya bunyi nada dering Handphoneku akhirnya menerobos hingga gendang telingaku. Ku raih Handphone di atas bantal, tanpa membuka mata lalu ku tekan tombol hijau yang biasanya digunakan untuk mengangkat panggilan.
“Halo..”, kataku dengan suara lirih dan malas.
“Kak Egi, hari ini aku kan ultah, jadi nanti sore tepat jam empat, aku mengundangmu datang ke kafe di dekat kampus. Datanglah, ini cuma sekedar kumpul bareng temen-temen yang lain.”
Ternyata itu adalah Lina, adik kelasku yang kutaksir. Betapa senang hatiku, dan aku sejenak berpikir akan mengadonya dengan kado yang istimewa pula. Lalu bergegas aku bangun dan langsung kuambil handuk yang biasa ku kaitkan di paku tepat di belakang pintu kamarku,aku langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badanku dari keringat dan bau badan. Setelah selesai, aku langsung kembali kekamar untuk mengenakan pakaian. Ku cium ketiak kanan dan kiri, memastikan bahwa badanku sudah benar-benar bersih dan wangi.
Ternyata aku bingung juga memikirkan mau ngado apa buat Lina di ulang tahunnya yang ke22 ini. Ku kado jam tangan, sayang dia sudah punya dan kupikir juga, tak mungkin kalau aku membelikan kado jam dinding, mau kukado baju, aku sendiri kurang tau pasti apa ukuran bajunya, kalau sepatu, setiap dua hari sekali sepertinya si Lina gonta-ganti sepatu,  Lina merupakan seorang wanita yang memiliki gaya hidup mewah namun tetap rendah hati, dan itu sudah termasuk catatan tipe wanita idamanku.
Jenuh berpikir akhirnya aku menyerah dan kubuat secangkir Capucino, ditemani sebatang rokok L.A, aku mulai meminum kopi  yang baru saja kubuat, dan rasanya akan berbeda jika aku minum Capucino tanpa ditemani rokok. Habis sebatang rokok, aku tiba-tiba teringat kata-kata andi bahwa Lina sangat menyukai kura-kura. Ah, itu kan dulu. Tapi, setelah kupikir lagi bahwa yang ku tahu, Lina menyukai Kura-kura, maka akupun bergegas pergi beranjak dari tempat dudukku, aku langsung pergi ke pasar ikan, kubayangkan, nanti aku akan membeli kura-kura berukuran kecil, bentuknya imut, sepertinya cocok untuk kado ulang tahun Lina sore nanti. Lama mengantri dipasar ikan, karena sekarang hari minggu dan banyaknya pengunjung yang berada dipasar ini bermacam-macam, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Aku tetap masuk di sela-sela pengunjung. Ada yang sedang duduk dan menawar harga ikan-ikan hias, ada yang berdiri, sepertinya hanya melihat-lihat saja, mungkin karena banyak yang bagus-bagus jadi mereka bingung mau yang mana yang akan didahulukan untuk dibeli.
Masih dalam keramaian pasar ikan, waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Aku masih terjebak di keramaian pasar. Dadaku mulai sesak. Ah, rasanya panas, tak menentu. Namun tetap aku harus mendapatkan minimal dua kura-kura. Keringat semakin deras mengucur di puggung, leher, dan kepalaku dan yang terbayang di enakku saat itu adalah senyum Lina yang akan menyambutku, lalu dia akan sangat senang dengan kado yang kuerikan. Pikiranku sudah mulai nakal, dalam hati aku mengatakan, tunggu aku sayang. Aku sejenak terdiam dan terhenyak sesaat tentang pikiran nakalku barusan.” Apakah mungkin aku diterimanya jika aku mengungkapkan isi hatiku di hari ulang tahunnya?”.
Ah,  semakin sesak dadaku karena semakin lama, pengunjung semakin ramai. Langsung saja aku nyerobot maju tepat didepan pedagang kura-kura yang sedang meladeni konsumennya. Kesabaranku semakin terkikis, kulihat waktu menunjukkan pukul 15.10 WIB. Kupanggil-paggil pedagangnya tak kunjung menoleh karena sedang sibuk menghitung uang. Lama kupanggil akhirnya pedagangpun mendengarku dan langsung menanyakan yang kuinginkan. Akhirnya kubeli dua kura-kura yang erukuran kecil. Aku menaruhnya dalam toples kecil, berwarna biru, dengan sedikit air. Tanpa membungkusnya dan hanya kuberi hiasan, aku membawanya langsung ke kafe karena lima menit lagi waktu menunjukkan pukul empat tepat.
80 Kilo meter/jam, ku tancap gas sekencang-kencangnya, tak ingin terlewatkan acara pemotongan kue di acara ulang tahun. Dada terasa semakin bergetar kala kusadar bahwa aku semakin mendekati kafe tempat acara ulang tahun Lina. Tangan kiriku menggenggam erat toples berwarna biru, sedng tangan sebelah kanan terasa tegang sambil mengendalikan gas. Dalam perjalanan yang terbayang adalah wajah perempuan idaman. Dan kini aku telah sampai didepan kafe, sedaang waktu menunjukkan pukul 16.25. 25 menit ysng lalu seharusnya ku telah sampai disini.
            Langsung memasuki kafe, sejenak langkahku terhenti, dadaku berdebar hebat bahkan hampir sulit untukku mengatur nafas. Ah, mungkin Cuma grogi, kataku dalam hati menenangkan sejenak pikiranku. Mataku mulai memantau tiap sudut kafe, dimana aka kutemukan Lina. Yang kulihat hanyalah orang-oraang yang sibuk dengan dirinya sendiri.
            “Egi !!”
            Seolah ada suara lelaki yang memanggil namaku. Akupun menoleh, kulihat Andi dan angga mendekatiku.
            “kau belum terlambat utuk menyaksikan pemotongan kue”. kata andi.
            Langsung saja kulangkahkan kaki menuju ke pojok kanan kafe, dadaku kembali berdebar seiring cepatnya langkah kaki. Hampir dekat, dan kini aku melihat gadis berambut panjang, dengan baju merah marun serta paras cantik dengan bibir mungilnya dan bola matanya yang bening, Lina. Entah mengapa, tiba-tiba kuhentikan sejenak langkah ini, mungkin karena baru saja menyaksikan Lina memberikan suapan kue pertamanya untuk seorang lelaki gagah disampingnya. Angga membisikan ke telingaku dari belaakang.
            “tuh yang barusan disuap si lina, pacarnya. Dua minggu yang lalu katanya mereka jadian”
            Sontak darahku terasa berdesir dengan derasnya. Kukepal tangan kananku ingi sekali kulanyagkan, tapi pada siapa?,  langsung saja kuputar balikkan arahku menuju ppintu keluar. Sekali lagi kutoleh wajah ayu Lina.
            Langsung kutancap gas sekencang-kencangnya, sedang tangan kiriku masih menggenggam toples berwarna biru. Seakan belum percaya dengan keadaan ini, debar didadaku tak kunjung hilang. Masih kutancapkan gas tanpa mengurangi kecepatan. Tak sadar Kupejamkan mata, tiba-tia.
            “GDUBRAKKK!!!!!!”
            Perlahan mataku terbuka, samar kulihat wajah tiga karibku, kulihat wajah ayu Lina dengan toples biru di tangannya, semakin lama, semakin gelap, dan gelap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar