Selasa, 03 Mei 2011

ANALISIS STRUKTURAL SEMIOTIK PENYERAHAN SI “JALANG” DALAM SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR


A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, puisi semakin dinikmati oleh masyarakat umum, akan tetapi, puisi atau sajak sukar dimengerti karena komplektifitas, pemadatan, kiasan-kiasan, dan pemikirannya yang sukar. Puisi merupakan kristalisasi pengalaman, maka hanya inti masalah yang dikemukakan. Puisi hanya menyatakan sesuatu hal secara implisit, sugestif, dan mempergunakan ambiguitas. Semuanya itu yang menyebabkan sukarnya pemahaman puisi atau sajak.
Puisi sebagai ekspresi pemikiran membangkitkan perasaan, yang meangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interprestasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo, 1987:7).
Penulis ingin mengetahui sejauh mana refleksi berlutut Chairil, yang tidak lain merupakan si “binatang jalang”, yang  terdapat dalam kumpulan sajak-sajaknya. Si “jalang” yang berlutut ini merupakan suatu kesimpulan yang diambil penulis dari pikiran putus asa, penyerahan, kepasrahan, kematian dan ketidakberdayaan Aku lirik.
Berangkat dari hal diatas, maka penulis akan mengurai sajak ini secara lebih mendalam, sistematis, tetapi praktis. Disini penulis memilih teori struktural-semiotik yang diharapkan dapat mengkaji puisi, menganalisis kompleksitas struktur puisi, dan diharapkan dapat memberikan makna sajak secara keseluruhan.

2.      Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun guna mengurai/memaparkan lebih jauh tentang si “jalang” berlutut/menyerah dalam kumpulan sajak-sajak Chairil Anwar. Mengapa Chairil disini menggunakan kata-kata yang melemahkan dirinya sendiri, tidak menggunakan kata-katanya yang bersemangat, ekspresif dan pantang menyerah.

3.      Rumusan Masalah
a.       Memaparkan sejauh mana  penyerahan si“jalang” dalam sajak-sajak Chairil Anwar?
b.      Seperti apakah unsur-unsur struktural semiotik dalam kumpulan sajak-sajak Chairil Anwar?

B.     TEORI DAN METODE
1.      TEORI
Teori strukturalisme-semiotik itu sesungguhnya merupakan penggabungan dua teori strukturalisme dan semiotik. Strukturalisme dan semiotik itu berhubungan erat; semiotik itu merupakan perkembangan strukturalisme (Junus, 1981:17).

a.      Strukturalisme
Strukturalisme adalah cara berfikir yang mendeskripsikan/pemberian makna sajak secara penuh dengan memperhatikan pertautan antar unsur-unsurnya dan makna hanya dapat diketahui hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur yang lainnya. fungsi tiap unsur dalam struktur itu tidak mempunyai makna dengan sendirinya, melainkan ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsur lainnya yang terkandung dalam struktur itu “Hawkes, 1978:17-18”. Struktural ini meliputi Gaya bahasa yang digunakan oleh penyair.

b.      Semiotik
Kata semiotik diturunkan dari bahasa inggris, semiotics yaitu ilmu tentang tanda. Istilah lain semiotic adalah semiotic dan semiologi. Beberapa pakar sastra telah memberikan batasan mengenai semiotic. Salah satunya adalah Teuw. Menurut Teuw (1982: 18) semiotic adalah tanda sebagai tindak komunikasi. Dalam pegertian tanda terdapat dua prinsip, yaitu penanda ( signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda ( signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari tanda secara sistematik. Bahasa yang merupakan sistem tanda yang kemudian dalam karya sastra menjadi mediumnya itu adalah sistem tanda tingkat pertama (meaning). Sedangkan bahasa dalam karya sastra, bahasa merupakan semiotik tingkat kedua (meaning of meaning).  Dalam sastra, konvensi bahasa itu disesuaikan dengan konvensi sastra. untuk membedakan arti antara bahasa biasa dan bahasa sastra, maka arti sastra itu disebut sebagai “makna” (significance) (Pradopo, 1987:122).





2.      METODE
Pada dasarnya pemaknaan sajak secara struktural hanya sebatas analisis berdasarkan struktur intrinsiknya saja sehingga sajak dilepaskan dari latar belakang atau unsur-unsur diluar sajak. Padahal sajak baru akan mendapatkan kesatuan makna/makna yang utuh jika dianalisis berdasarkan unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Berangkat dari keterangan diatas maka disini penulis menggunakan teori struktural untuk menganalisis sajak dari struktur intrinsiknya, unsur-unsurnya dilihat kaitannya dengan unsur lainnya yang terjalin didalam struktur sajak itu sendiri dan menggunakan teori semiotik dalam pemaknaan dari unsur ekstrinsik sajak, meliputi; Pembacaan hermeneutik, matriks, model dan varian-varian.


C.    ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN

1.      Sajak Kunci Analisis Kumpulan Sajak Chairil Anwar.
Sajak “Derai-Derai Cemara” yang merupakan salah satu sajak yang ditulis Chairil Anwar, pada waktu menjelang kematiannya ini dipandang penulis merupakan kristalisasi tentang filosofi perjalanan atau peran seorang manusia kehidupan. Penyerahan Chairil Anwar dalam sajak ini terasa begitu kental dengan adanya unsur penyerahan, kepasrahan, kematian dan ketidakberdayaan.
Berdasarkan dari uraian diatas maka penulis merasa yakin dengan pemilihan sajak “Derai-Derai Cemara” sebagai sajak kunci untuk menyelami keseluruhan kumpulan sajak “Aku Ini Binatang Jalang” karya Chairil Anwar yang terdapat unsur penyerahan.
Untuk lebih jelasnya berikut sajak “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar.   

DERAI-DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh,
Terasa hari jadi akan malam,
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh,
Dipukul angin yang terpendam.

Aku sekarang orangnya bisa tahan,
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi,
Tapi memang ada suatu bahan,
Yang bukan dasar perhitungan kini.

Hidup hanya menunda kekalahan,
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

1949

          Sebagai pengantar supaya tidak terjadi kebingungan dan kehilangan arah dalam memahami makalah ini, perlu penulis sampaikan bahwa analisis selanjutnya nanti, yang menjadi pokok pembicaraan adalah sajak “Derai-Derai Cemara”. Semua deskripsi sajak-sajak Chairil Anwar bersumber dari sajak ini, dan perluasannya nanti mengutip dari sajak-sajak Chairil yang lain.

2.      Ungkapan Pesimistis dalam Struktur Kepuitisan
a.      Tema Kematian Dalam Kumpulan Sajak Chairil
Tema merupakan inti atau esensi karya sastra. Tema kematian yang terdapat dalam sajak-sajak ini adalah refleksi dari hukum alam bahwa semua makhluk hidup yang bernyawa tidak terkecuali manusia, pada akhirnya akan mati. Tiada daya bagi manusia untuk menolak kematian. 
Pikiran tentang kematian ini telah Chairil ungkapkan sebelumnya lewat sajaknya yang terdahulu. Seperti sajak “Nisan”. Berikut kutipannya “Bukan kematian benar menusuk kalbu/Keridlaanmu menerima segala tiba/…”. Sajak “Nisan” ini, yang didedikasikan untuk neneknya yang baru meninggal, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun.
 Kematian pun terdapat dalam sajaknya “Diponegoro” dalam bait ke 6 “Sekali berarti/ Sudah itu mati”. sajak itu adalah cerminan dari ekspresi kekaguman Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro, di saat jiwanya amat diresahkan dengan kematian dan absurditas.
     
b.      Refleksi Penyerahan Dalam Pilihan Kata
Diksi (pilihan kata) yang digunakan oleh penyair dalam sajak yang merefleksikan penyerahan dan kepasrahan tak lagi bersemangat disini penyair memilih kata-kata yang bernada lembut dan menekan. Tidak ada semangat yang terkandung dalam setiap kata.  Seperti dalam sajak “Derai-Derai Cemara” pada bait ke 3.


           
Hidup hanya menunda kekalahan,
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Hal senada juga terdapat dalam sajak “Doa”, dalam sajak ini memang ada sisi religiusitas, tapi penulis tidak akan membahas aspek religius Chairil, tetapi unsur penyerahannya saja. Untuk lebih jelasnya berikut kutipan sajak tersebut.
                 
DOA
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintumu aku mengutuk
Aku tidak bisa berpaling


c.       Pemanfatan majas
Pemanfaatan majas atau bahasa kiasan oleh penyair dalam sajak-sajak Chairil ini tampak begitu singkron dengan tema yang diangkat oleh sang penyair. Personifikasi pada sajak “Derai-Derai Cemara” pada kutipan berikut:
 
“dipukul angin yang terpendam”
jika dikaitkan dengan larik-larik sebelumnya, menggambarkan sebuah kehidupan si Aku lirik yang mulai lelah. Ditunjang dengan Simbol-simbol seperti “dahan”, metafora dari bagian tubuh manusia yang mulai lemah dengan kiasan “merapuh”. Simbolik “malam” mengimajinasikan pada kesunyian dan akhir dari sebuah kehidupan. Begitu juga eufemisme “menyerah” sebagai metafora dari kata mati. Parabel ” hidup hanya menunda kekalahan” dijadikan penentang dari pepatah hidup hanya menunda kemenangan.
Parabel dalam sajak “DIPONEGORO” seperti :

Sekali berarti
Sudah itu mati
Pepatah yang termuat dalam kata-kata tersebut seperti sebuah kepasrahan. Jika memilih sekali maju bertempur berarti sudah siap mati dan tidak ada jalan lain kembali/pulang kecuali mati.

d.      Citraan
Dalam  sajak “Derai-Derai Cemara” Citraan atau penggambaran suasana dalam sajak oleh pengarang dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan suasana yang relevan dengan tema sajak. Citraan yang digunakan pengarang mengarah kepada kesunyian, kesendirian, ketidakmampuan dan hal-hal yang menggambarkan ketidak berdayaan si Aku lirik. Menggunakan suasana alam berupa citraan pendengaran pada “Cemara menderai sampai jauh” menimbulkan suasana sunyi yang mencekam, sampai-sampai suara deraiannya terdengar sampai kejauhan. Citraan gerak terdapat pada frasa “dipukul angin yang terpendam”. citraan penglihatan, pada larik “Terasa hari jadi akan malam/Ada beberapa dahan di tingkap merapuh” dan “sudah beberapa waktu bukan kanak lagi”.  
3.      Makna Kematian Menurut Hemat Chairil Anwar

Pola kehidupan Chairil yang “jalang” telah menjadi semacam mitos, kita suka lupa bahwa sajak-sajak yang ditulis menjelang kematiannya menunjukkan sikap hidup yang matang dan mengendap. Kita umumnya lebih suka membayangkan semangat hidup penyair ini seperti yang terungkap dalam sajak-sajaknya “Semangat” atau “Aku” dan “Kepada Kawan”. 
Kehidupan menurut Chairil adalah sebingkai misteri yang tidak bisa kita temui artinya, tapi pada saat yang sama kita memiliki impuls untuk mempertahankannya. Kita hidup, menurut Chairil, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya.
Sajak “Nisan”, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun. Renungannya ini lalu menghantarkan ia pada pertanyan eksistensial: “Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?”
Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd dengan gagah berani, tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai perwujudan yang konkret dari kegairahannya mempertahankan hidup
  
       DIPONEGORO
Sekali berarti
Sudah itu mati


Bagimu Negeri
Menyediakan Api

Punah diatas menghamba
Binasa diatas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.


Sebenarnya sajak diatas merupakan sebuah ungkapan kekaguman terhadap tokoh perjuangan Pangeran Diponegoro dalam memahami hidup dan memahami arti kematian., yang tidak ragu sedikit pun merelakan jiwa dan raganya demi bangsanya. Tapi tetap saja dirinya tidak mengerti akan arti kehidupan dan bertanya-tanya tentang kematian yang tidak kunjung dipahaminya.   
Di samping teknik persajakan telah dikuasainya benar sehingga sajak-sajaknya terasa jernih, penghayatannya terhadap kehidupan (dan kematian) yang menjadi subjek puisi-puisinya juga telah mencapai klimaks kematangan sebagai seorang penyair.
Pada tahun kematiannya 1949 Chairil menulis sajak “Chairil Muda, Mirat Muda”, dengan tambahan judul kecil “Di Pegunungan 1943″.Sajak ini merupakan kenangan Chairil terhadap saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya–sebuah perasaan yang wajar timbul pada orang-orang yang menyongsong kematian. Di akhir sajak tersebut ia sempat menulis kata mati “menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati”. Namun berbeda dengan sajak-sajaknya yang ditulis pada 1942, di mana kematian dipersoalkan dengan keterlibatan dan perhatian yang penuh, di sajak ini kematian diucapkannya dengan cara yang ringan saja.
Agaknya kematian bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi. Dalam sajaknya “Yang Terampas dan yang Putus”, juga ditulis pada 1949, Chairil malah secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi kematian. Ia tiba-tiba menyadari bahwa impuls-impuls kehidupan tidak pernah sepenuhnya diam.
Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup menurutnya adalah karena kita sedang mencari maknanya. Namun misteri tetaplah sebuah misteri, ia tidak pernah akan bisa terpecahkan. Karenanya mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan.
Berangkat dari konsep pemikiran seperti itulah maka sajak-sajak berbau kematian lainnya tercipta. Pemikiran ini ditransformasikan oleh chairil kedalam sajak “Derai-Derai Cemara”. Berikut kutipan bait ketiganya :




Hidup hanya menunda kekalahan,
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.


Sajak ini merupakan semacam kesimpulan yang diutarakan dengan sikap yang sudah mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusiayang memisahkannya dari gejolak masa lampau.





4.      KESIMPULAN
Demikianlah, berdasarkan analisis struktural-semiotik diatas maka dapat disimpulkan bahwa refleksi berlutut Chairil, yang tidak lain merupakan si “binatang jalang”. Si “jalang” yang berlutut ini merupakan suatu kesimpulan yang diambil penulis dari pikiran putus asa, penyerahan, kepasrahan, kematian dan ketidakberdayaan Aku lirik.
Beberapa aspek yang mendukung struktur kepuitisan yang khas dan pemaknaan dalam kerangka semiotik secara keseluruhan dapat difokuskan sebagai berikut :
1.      Diksi (pilihan kata) yang digunakan oleh penyair dalam sajak yang merefleksikan penyerahan, tidak lagi bersemangat, disini penyair memilih kata-kata yang bernada lembut/datar dan menekan. Pemanfaatan majas atau bahasa kiasan oleh penyair dalam sajak-sajaknya ini tampak begitu singkron dengan tema yang diangkat oleh sang penyair. Pemakaian majas tidak sekedar pemanis kata tetapi sebagai pendukung realitas sajak. Citraan atau penggambaran suasana dalam sajak oleh pengarang dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan suasana yang relevan dengan tema sajak. Citraan yang digunakan pengarang mengarah kepada kesunyian, kesendirian, ketidakmampuan dan hal-hal yang menggambarkan ketidak berdayaan si Aku lirik.
2.      Setelah ditelaah dan diurai lebih mendalam dalam analisis pada bagian pembahasan diatas, kesimpulan dari sikap hidup yang pesimistis diatas berpusat kepada unsur kematian. Tapi kematian pun bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi. Mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan
 


DAFTAR PUSTAKA

________. 19.Chairil Anwar Aku Ini Binatang Jalang.Jakarta:Gramedia.
Istiyono Wahyu OS, Y.2006.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Batam Centre:Karisma
         Publishing Group.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar